Essay Beasiswa unggulan

    Nama saya Cholik Hermawan. Saya lahir dan tinggal di Sanggau, salah satu kabupaten/kota di Kalimantan Barat dan saya telah mengenyam wajib belajar 12 tahun di sana. Menjadi salah satu yang dapat merasakan pendidikan di SDN 29 upt sp 4, SMPN 3 Jangkang, dan di SMAN 2 Sanggau adalah sesuatu yang patut disyukuri oleh saya karena sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah favorit di lingkungan kelahiran saya. Banyak sekali pengalaman mengesankan selama berada di sana seperti terlibat di OSIS, ROHIS, PRAMUKA, PMR, dan banyak lagi. Ketika SMP maupun ketika SMA, saya aktif di beberapa ekstrakulikuler dan ikut berbagai perlombaan hingga ketika di penghujung SMA mendapat Juara 3 tilawah tingkat SMA/MA.  Saya adalah anak yang tidak cukup beruntung karena dilahirkan dalam kondisi yang tidak berkecukupan dan tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi saya sangat beruntung mendapatkan kesempatan mencari dan memaknai pencapaian-pencapaian melalui proses yang panjang. Namun, semua itu menjadi sia-sia jika pada akhirnya tidak memberikan manfaat untuk orang lain.
  Meski bukan menjadi lulusan terbaik dengan pencapaian karir yang cemerlang, saya masih sangat bersyukur masih dikaruniai geliat untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Cerita-cerita ini sebagian telah saya bagikan ke adik-adik kelas saya di daerah untuk memotivasi mereka mengejar pencapaian yang lebih besar. Akses pendidikan dan beasiswa yang semakin mudah serta wahana belajar dan wahana aktualisasi diri yang semakin bervariasi seharusnya lebih mempermudah adik-adik kelas saya mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi. Karena membangun daerah, apalagi membangun bangsa, tidak cukup seorang diri. Pencapaian saya sebagai individu belumlah dapat berdampak banyak.
 Generasi unggul tentu saja memiliki definisi yang beragam dan subjektif. Kembali lagi, menisbatkan diri sebagai generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia rasanya cukup berat. Tetapi saya bisa menegaskan bahwa saya adalah salah satu pemuda yang sedang menyiapkan diri untuk berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya sebagai akademisi karena generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia tidak ada artinya tanpa memberikan manfaat untuk orang lain di sekitarnya sekecil apapun itu.
Pasca lulus SMA, saya melanjutkan studi S1 jurusan PAI di Institut Agama Islam Negri Pontianak. Saya sangat bersyukur dapat kuliah di tahun pertama saya setelah lulus SMA, karena nyatanya masih banyak orang yang belum bisa meneruskan studi di perguruan tinggi baik karena belum memiliki kesempatan, maupun karena kondisi-kondisi yang lainya.
Untuk bisa lulus seleksi di kampus ini bisa dibilang tidak sesulit jika dibandingkan dengan seleksi di perguruan tinggi negeri lainnya. Nyatanya baru gelombang satu masuk perguruan tinggi tersebut saya dinyatakan lolos. Walaupun saya dari sekolah umum yaitu SMA saya tidak putus asa untuk bisa lolos di perguruan tinggi tersebut. Sempat menyesal  SMA karena potensi saya terlihat di agama, tetapi penyesalan itu tidak membuatku jatuh pasalnya sekolah saya adalah sekolah tervaforit di Kabupaten tempat saya tinggal.
  Kuliah bagi saya bukan hanya untuk mendapatkan gelar dan memudahkan dalam mencari pekerjaan. Lebih jauh dan lebih utama dari itu, kuliah bagi saya adalah jalan menuntut ilmu yang merupakan sunnatullah sebagai seorang muslim. Seperti apa yang telah disabdakan oleh sosok panutan umat manusia yakni Rasulullah SAW, bahwasanya
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu” (HR. Turmudzi).
Dari hadis tersebut meyakinkan saya, jika seseorang sudah memiliki ilmu tak perlu risau akan kehidupan di akhirat, tak perlu risau pula akan kehidupan di dunia, apalagi hanya sekedar mendapatkan pekerjaan. Di negeri ini, orang yang cerdas bisa dikatakan banyak, tapi yang cerdas dan peduli terhadap bangsa tidak demikian. Padahal Rasulullah mengatakan bahwa,
“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath).
  Dari hadis dan kenyataan itulah saya menaruh harapan kepada diri saya pribadi, bahwasanya kelak suatu saat saya harus memberikan manfaat kepada orang lain dari penerapan ilmu yang sedang saya pelajari saat ini.
Oleh karena itulah ketika saya berada di penghujung masa putih abu, saya benar-benar memperhatikan passion apa sebenarnya yang telah tuhan titipkan ke dalam diri saya. Karena saya yakin, bila seseorang mengerjakan apa yang dia senangi, maka apapun akan dia kerjakan secara maksimal. Bila jurusan yang diambil saja tidak disenangi, bagaimana bisa dia membangun motivasi belajar dengan baik? Bagaimana bisa dia bertahan karena di depan pasti banyak tantangan dan hambatan? Tentu alasan yang paling mungkin untuk bisa menguatkan hal itu adalah passion nya sendiri, maka itulah pentingnya menemukan passion pada diri seseorang dan menyalurkannya.
Rasanya terlalu berat jika saya mengatakan “Aku adalah generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia” tapi kalimat tersebut mengandung motivasi yang luar biasa untuk bagaimana saya harus berkontribusi bagi bangsa ini. Tentunya dengan kapasitas yang saya miliki dengan cara dan gaya saya sendiri dan dengan membawa ilmu yang saat ini sedang saya pelajari saat ini.
Bagi saya menjadi seorang manusia yang unggul adalah sebuah keharusan. Tuhan telah menciptakan manusia sedemikian rupa hingga menjadi makhluk yang paling sempurna beserta dengan akal dan pikirannya. Menjadi manusia unggul berarti memanfaatkan dengan baik anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Selain itu, menjadi unggul adalah pembeda dari satu manusia dengan manusia lainnya. Seorang manusia akan dikenal dengan branding dirinya yang berbeda satu dengan yang lain, terutama branding tentang keunggulan, keunikan, dan kelebihan diri. Unggul dalam hal ini adalah menggali kemudian memaksimalkan potensi yang telah diberikan Tuhan kepada hamba-Nya hingga terwujud seorang manusia yang sebenar-benarnya. Seorang manusia dapat membanggakan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya dengan keunggulan, karya, dan tinggalan-tinggalannya yang bermanfaat.
   Dalam hidup, ada beberapa prinsip yang saya pegang teguh, yakni jujur, religius, mau belajar, mau bekerja keras, dan pantang menyerah. Dengan jujur, manusia akan hidup dengan penuh kepastian tanpa adanya rasa was-was, serta akan dipercaya di manapun ia berada. Sebagai makhluk Tuhan, sudah sepantasnya manusia mengutamakan agenda kerohanian daripada agenda yang lain. Dengan prinsip mau belajar, mau bekerja keras, dan pantang menyerah, saya mampu mengatasi segala tantangan, hambatan, dan resiko yang ada. Tentunya dengan tidak menafikan peran Tuhan dalam setiap gerak langkah yang kita lalui.



  Mengapa saya kebanggaan bangsa? Karena saya berupaya memberikan contoh kepada sekitar, betapa nikmatnya menjadi pemuda pemudi berilmu dan berpendidikan tinggi mencambuk saya untuk menjadi warga negara yang budiman dan taat peraturan. Dengan saya berpendidikan tinggi, minimal mendorong adik dan saudara saya untuk bisa seperti saya. Saya yang lahir dan besar dari pulau Kalimantan ingin bisa memotivasi teman-teman saya pentingnya pendidikan. Maka apabila semakin banyak masyarakat Indonesia yang memahami pentingnya pendidikan, maka akan semakin banyak pula problematika negeri yang terselesaikan.
  Generasi unggul kebanggaan bangsa adalah saya. Yang berusaha memberikan hal positif bagi sekitar. Yang tak kenal lelah untuk belajar. Yang memilih untuk menjalankan hidup lebih bermakna. Yang berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Yang mencintai tanah air karena telah memberikan naungan nan nyaman sejahtera. Saya adalah satu dari jutaan generasi unggul kebanggan bangsa bercita-cita membangun Indonesia Jaya.

Komentar